Pernah baca di TL tentang inner child dan kemudian penasaran akhirnya searching dan ternyata dalem banget, di dalam fikiran gue pas denger “oh ternyata itu yah,oh ternyata ini yah, oh ternyata gara-gara ini dan itu” dan masih banyak banget yg terngiang-ngiang sehingga memutuskan untuk menulisnya di blog aja biar bisa berbagi dan semoga bisa sedikit menjawab pertanyaan orang yang membaca tentang permasalahannya sendiri dengan versi aku hehehe...
Inner child adalah sisi kepribadian seseorang yang terbentuk dari masa kecil. Jujur aja, menurutku aku adalah manusia paling egois, setelah aku mendengar podcast tentang inner child ini ternyata selain aku anak tunggal dan ibuku selalu memprioritaskan ku dan selalu membeda-bedakanku dari yang lain ternyata terbawa dan menempel terus, sampe kadang orang terdekatku menjadi korban atas keegoisanku, aku juga sering terpengaruh oleh beberapa orang yang mungkin berkaitan dengan inner child ku seperti kadang terlalu baper, sensitif, seperti tidak ingin melihat kebahagiaan orang lain. Tapi inner child ini bukan hanya yang negatif, ada juga yang positif. Kalo yang positif dalam kehidupanku selalu di ajarkan kalo bukan milik sendiri yah jangan di ambil dan sampe sekarang pun selalu diterapkan contohnya pacarku di ambil orang gak bakalan aku rebut lagi karna kembali lagi kalo dia bener-bener belum jadi miliku jadi ambil aja karna memang belum milikku gitu wkwkwkw *becanda* pokonya sudah tercover di fikiranku kalo pada akhirnya bukan berpihak atau bukan takdirnya aku yah aku bakalan ikhlas karna itu emang bukan untukku gitu.
Sering deep talk dengan diri sendiri “ternyata masa kecil gue gini dan gue bersyukur terbawa sampe sekarang”. Kadang juga berfikir kenapa sih aku selalu terlalu sensitif akan sesuatu bahkan kadang terlalu baper, ternyata setelah kumenyadarinya ada luka yang tersembunyi waktu masa kecilku dan berpengaruh sampai ku dewasa atau bisa dibilang trauma. Misalnya ketika ku punya gebetan jauh sebelum deket aku tuh udah berkesimpulan pasti laki-laki ini akhirnya akan menyakitiku akan meninggalkanku dan anggapan-anggapan yang kurang bagus, padahal mungkin tidak seperti itu dan pada akhirnya laki-laki itu mundur sehingga anggapan yang kubuat pertama kali rasanya terbukti padahal tanpa ku menyadari aku sendiri yang membuatnya seperti itu. Contoh lain aku kan punya bapak sambung, sementara aku terlahir sebagai anak broken home, aku selalu beranggapan kalo pasti akhirnya juga bakalan sama seperti sebelumnya, padahal kan belum tentu, rasanya seperti ada dendam di dalam diriku yang tidak tersampaikan jadi aku selalu menganggap beliau seperti itu, sampe beliau meninggal dan akhirnya ku menyesalinya dan ternyata ku sadar bahwa ini adalah inner childku yang terbawa sampe sekarang. Beberapa orang sering menjadi korban, dan ku menyadarinya setelah mengetahui tentang apa sih inner childku, ternyata sebelum kumenyadari adanya inner child ini aku sulit untuk menjalin hubungan dengan banyak orang. Mungkin juga semua orang mempunyai kepribadian yang terbentuk dari inner child nya. Jadi aku selalu bener-bener deep talk dengan diri sendiri, sering memeluk diriku sendiri dan berkata “mungkin ini citra yang dulu, yang ingin mendapatkan kasih sayang seutuhnya dari kedua orangtua. mungkin ini citra yang dulu ingin di akui” jadi sekarang lebih ke perhatian aja ke diri sendiri karna mungkin itu salah satu cara agar dapat merangkul inner child yang kupunya. Jadi kalo ada yang tanya bagaimana kamu menyikapi inner child? Jawabanku satu-satunya adalah aku harus memahami diriku sendiri, harus tau mana yang bener-bener aku mau dan mana yang bener-bener tidak berkenan untuk diriku, sering-sering aku bercerita dengan diri sendiri karna ada sosok kecil di dalam diri kita yang mungkin kita tidak tau ternyata banyak luka yang tersebunyi disitu dan perlu untuk di ajak talk, kedengarannya sih seperti orang gila tapi emang harus seperti itu agar kita bener-bener tau apa yang baik untuk kita, jangan hanya terpengaruh oleh faktor lain, pokoknya harus bener-bener menjadi diri kita sendiri, gak bakalan ada yang rugi, soal orang lain yang gak suka dengan sifat atau sikap kita itu bukan salah kita juga bukan salah orang itu mungkin memang tidak cocok saja untuk bersama, asal masih yang baik-baik tapi orang di sekitar kita tetap tidak suka yah caranya menjauh dan cari yang memang bener-bener bisa menerima kita dengan sifat atau sikap kita yang sebenarnya, bukan malah merubah diri kita agar kita bisa bersama orang yang kita senangi, jangan pernah berfikir seperti itu yah.
Setelah aku melakukannya ternyata ada perubahan di dalam diriku yang mungkin sekarang lebih tau memposisikan diri, lebih tau bahwa manusia itu tidak ada yang sama, lebih banyak dekat dengan orang-orang baik, dan lebih positiv thingking sehingga selalu berada di tempat yang positiv dan di kelilingi orang-orang yang merangkulku dengan ketelusannya. Tapi disisi lain aku sangat bersyukur dengan adanya inner childku, walaupun banyak trauma bersama innerchildku aku bisa melalui semuanya bahkan menyadarinya dan menjadi lebih baik lagi berkat inner child itu.
Semoga bagi siapa saja yang membaca tulisan ini yang mempunyai inner child kurang bahagia maupun yang negatif akan berdamai dan akan memahami serta menjadi sosok yang lebih kuat lagi dan menyadari bahwa ternyata kalian sekuat ini dan bisa bangkit dari keterpurukan. Aku pernah baca tulisan kurang lebih bunyinya gini: Satu hal yang perlu di tanamkan dalam fikiran untuk menghadapi lika-likunya kehidupan yaitu masalah kehidupan itu cuma akan naik level aja sesuai dengan kemampuan kita pada saat itu. Paling bedanya cuma gimana cara kamu cari jalan keluarnya aja. Mungkin sebelumnya lebih terburu-buru dalam menyelesaikan masalah, tapi lebih bertambahnya usia bisa lebih belajar dari pengalaman “Figuring out is forever game”. Kamu harus lebih sering liat kedalam, mengahargai dan menjadikan diri kamu sebagai the best supporter untuk diri kamu sendiri.
Oh ya, satu lagi pesan dariku untuk pembaca tulisan ini yang mayoritasnya pembaca tulisanku yaitu satu daerah denganku wkwkwkwk Allah nda kase ujian di luar torang pe kemampuan mungkin kalimat ini sering terdengar biasa aja tapi tanpa kalian sadari itu maknanya sangat deep, kalo Allah kase pa torang ujian yang torang sandiri saja nda nyangka kalo ini mo terjadi pa torang berarti Allah tau torang boleh mo lewati itu, Allah saja tau, kyapa torang yang ragu dg torang pe diri sandiri?! :’) HUHUHUHU sedih, sekian......
Komentar